Penyampaian VNC dan DKN Turut Hadir pada Sidang UNFF-13 di New York USA

Semenjak ditunjuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memfasilitasi penyusunan naskah Voluntary National Contributions (VNC) pada Bulan Juni tahun lalu, DKN berkomitmen untuk menyelesaikan tugas atas  kepercayaan yang diberikan tersebut sesuai harapan. Serangkaian kegiatan dilakukan untuk mendapatkan naskah VNC yang inklusif dan komprehensif serta dapat dijalankan secara berkesinambungan oleh pemerintahan saat ini maupun yang akan datang melalui kajian perencanaan yang matang. Rangkaian kegiatan tersebut diantaranya rapat brainstorming, pra-semiloka, semiloka, rapat konsinyasi, finalisasi draft, dan pencetakan dokumen final yang selanjutnya akan disampaikan pada sidang United Nations Forum on Forest (UNFF) ke-13 di New York 7-11 Mei 2018.

Ikut dalam rombongan Delegasi Republik Indonesia pada sidang UNFF ke-13 di New York 7-11 Mei 2018 adalah Imam Harmain dan Nur Amalia – keduanya mewakili DKN, selain itu juga ada perwakilan dari  APHI, KLHK dan Kemenlu RI.

Berdasarkan informasi berita yang diambil dari situs http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/1224 bahwa Indonesia menegaskan kesiapan untuk berkontribusi pada pencapaian Sasaran Kehutanan Global. Hal ini disampaikan Dr. Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, mewakili Menteri LHK, saat menghadiri Sidang ke-13 Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Kehutanan atau UNFF di New York, Amerika Serikat (7/5) waktu setempat.  Disampaikan juga olehnya bahwa UNFF telah mengubah haluan semula yang menekankan pada penyusunan kebijakan menjadi fasilitasi implementasi. Untuk itu negara-negara anggota diharapkan secara suka rela menyampaikan VNC, yakni komitmen untuk berkontribusi pada pencapaian Sasaran Kehutanan Global.  VNC Indonesia merupakan bagian dari laporan kemajuan implementasi United Nations Strategic Plan for Forests 2017-2030. Apresiasi disampaikan kepada Dewan Kehutanan Nasional (DKN) yang telah memfasilitasi penyusunan laporan beserta VNC tersebut.

Disampaikan juga isi dari VNC Indonesia yang merujuk pada UN Strategic Plan for Forests 2017-2030 (UNSPF) yang berisikan 6 Global Forest Goals dan 26 associated Targets, yaitu:

  • Sasaran Global 1 terkait luas hutan, Indonesia akan menurunkan deforestasi dari 0.92 juta ha/tahun jika tanpa upaya menjadi 0,45 juta ha pada 2020, dan 0.325 pada 2030. Ini sejalan dengan NDC dalam kerangka Paris Agreement.

  • Sasaran 2 terkait peningkatan manfaat hutan, termasuk untuk penghidupan masyarakat lokal, Pemerintah Indonesia mengalokasikan 12,7 juta ha untuk perhutanan sosial.

  • Persentase luas hutan dengan perencanaan pengelolaan berkelanjutan, dan persentase hasil hutan yang berasal dari hutan berkelanjutan. Dalam hal ini Indonesia menyampaikan telah mewajibkan unit-unit usaha untuk memperoleh Sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan juga Sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

  • Sasaran 4 tentang pendanaan, Indonesia akan terus mendorong pembiayaan untuk UKM sektor kehutanan melalui Badan Layanan Umum (BLU) yang menyediakan pinjaman, bagi hasil, maupun skema syari’ah.

  • Berkenaan dengan koordinasi, Indonesia akan terus mendorong integrasi sektor kehutanan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional, dan mendorong pelibatan berbagai pihak, seperti melalui institusi Dewan Kehutanan Nasional dengan lima kamar, yang terus memberikan masukan kepada Pemerintah.

  • Kebijakan gender mainstream telah diadopsi oleh KLHK sejak beberapa tahun silam dengan pelibatan perempuan dalam pembangunan sektor kehutanan.

UNFF 13 akan berlangsung selama lima hari hingga tanggal 11 Mei mendatang. Perwakilan Tetap RI di PBB bersama Perwakilan Tetap Republik Ghana di PBB dan Delegasi Uni Eropa di PBB menyelenggarakan Side-event “Achieving SDG 15: Timber Legality Assurance System and Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) Implementation for Sustainable Forest Management”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *